Senin, 03 Februari 2014

Jakarta Nowdays...


Agak minder juga sih liat blog yang lain pada keren-keren banget. Saya emang gaptek, ha ha.

Anyway...
Pagi kemarin sekitar pukul lima--enaman saya nonton berita di tv sambil sarapan sebelum berangkat ngajar. Boringlah tentang banjir lagi banjir lagi. Well, bukan maksud menyapelekan, maksudnya saya agak muak aja gitu dengan hal sama yang terjadi berkali-kali. Dan hebatnya, bukan berkurang wilayah yang kena, malah melebar.

Bencana alam. Benarkah? Entah, ya, kok saya agak merasa kurang sreg sama istilah ini untuk menggambarkan keadaan banjir di Jakarta. Maksud saya, helloo... tiap tahun gitu, dan itu terjadi karena alam? Ah, coba pikirkan lagi. Seringkali pula sih reporter dan media masa melaporkan dengan kalimat: "Akibat hujan deras yang mengguyur blablablaba" ketika menyampaikan berita mengenai banjir atau longsor. Benarkah? Lalu apa yang memenuhi sepanjang permukaan sungai dan rawa itu? Lalu apa yang berdiri megah dengan kotak-kotak kaca selebar itu? Mencaplok hak pohon-pohon yang semestinya tumbuh rindang, dan hijau.

Memang, sih, untuk berubah tidak akan semudah Deddy Corbuszier membengkokkan sendok, tapi mbo ya agak kelihatan gitu ya niatnya warga Jakarta buat berubah. Program kebersihan dari pemerintah itu lho, didukung, bukan diandalkan jadi program satu-satunya. Memang salah satu tugas pemerintah adalah melayani masyarakat, tapi ya masyarakat pun bertanggung jawab atas dirinya dan lingkungannya sendiri. Bener, kan?  

Dan soal para relawan, saya harap itu bukan sekedar trend, ya... kayak trend back packer atau pendaki yang sedang menjamur sekarang. Ikhlas, di atas segalanya, bukan trend ikut-ikutan apalagi ngejar-ngejar kamera tv ^.^v



2 komentar: